14 Januari 2014

Precious Things

Pernah nggak sih kehilangan sesuatu berharga dalam hidup temen-temen? 

Gimana rasanya? 

Sakit, sedih, kecewa, atau biasa aja? (Haaah, kalau biasa aja sih nggak bisa dibilang berharga juga ya? -_____-).

Bukannya pengen mendewakan atau men-Tuhankan sesuatu (barang) itu ya. Hanya merasa gimanaa gitu ketika punya suatu barang yang udah kita jaga dan rawat selama bertahun-tahun, kemudian hilang begitu saja. Apalagi kalau barang itu sudah mengisi hari-hari kita. Ketika kita butuh, dia selalu ada. Ketika kita kesepian, dia selalu menemani. Ett, bentar, bentar, ini ngomongin barang atau pacar sih?

Sebenernya bukan dari masalah mahalnya juga. Kadang ada orang yang sedih kehilangan barang, karena harganya yang berjuta-juta, atau belinya di luar negeri, atau langka, atau dikasih sama seseorang yang spesial, daan atau-atau lainnya. Tapi buat saya, yang bikin berharga dari barang saya itu adalah kenangannya. Kenangan yang tercipta bersama "si barang kesayangan" selama bertahun-tahun.

Ada 3 barang berharga saya yang sekarang udah hilang entah kemana. Pertama, pensil mekanik. 

Kok bisa pensil mekanik? 

Mungkin orang lain akan berkomentar, "Alaah, cuma pensil mekanik kok, di toko masih banyak, tinggal beli aja, gitu kok repot." atau ada juga yang berkomentar, "Emang berapa sih harganya? Mahal banget ya? Kalau murah, ya tinggal beli aja sih.". Sekali lagi, bukan dari harganya yang saya pikirin. Justru pensil mekanik yang saya beli itu adalah pensil mekanik yang termurah yang pernah saya beli. Waktu itu saya beli pensil mekanik ini di salah satu toko alat tulis (stationery) di Kota Bandung. Di rak pensil, saya menemukan setumpuk pensil mekanik. Yang bikin saya tertarik adalah bentuknya yang amat teramat simpel, polos, dan yaa murah. Saya beli pensil mekanik itu dengan harga 800 rupiah. Hanya dengan harga yang kurang dari ongkos angkot jarak dekat saja, saya bisa mendapatkan barang itu. 

Terus yang jadi masalah apa kalau kehilangan pensil itu, murah banget kan?

Ya, emang murah. Tapi yang bikin saya sayang sama pensil saya itu adalah awetnya. Akhir-akhir ini saat saya beli pensil mekanik, tidak pernah ada yang bertahan lama seperti pensil saya yang satu itu, paling sebentar 3 bulan, paling lama pun nggak sampe setahun (atau barangkali saya yang nggak bisa jaga barang ya? hehe..). Pensil  mekanik itu ada selama hampir 3 tahun kalau nggak salah. Meskipun sering jatuh, ganti isi pensil, pensil mekanik itu nggak pernah rusak. Selain itu, yang saya senangi dari pensil mekanik itu adalah nyamannya. Ada kan alat tulis yang kalau kita pake malah bikin tulisan kita jadi jelek? Atau emang bener-bener bikin nggak enak buat nulis (terkadang ada faktor dari si empunya :D). Pensil mekanik saya itu bener-bener enak banget untuk dibuat menulis. Kadang bikin tulisan saya jadi bagus, hehe.. Oya, ada lagi hal yang buat pensil itu jadi berharga buat saya. Dia selalu ada dalam setiap saya membuat tugas dan mengerjakan ujian (Ya iyalah, kalau nggak ada, berarti emang beneran hilang -____-). Karena hal-hal itulah, saya membuat pensil mekanik itu jadi terasa berharga buat saya.

Saat kehilangan pensil itu, rasanya sedih banget. Sedih, karena nggak ada pensil cadangan, hahaha.. Bercanda, bercanda. Ya mau gimana nggak sedih, pensil yang selama ini kita pakai setiap hari, ada saat kita butuh, tiba-tiba lenyap begitu saja. Bikin saya nggak mood untuk mengerjakan tugas saat itu, bahkan kepikiran. Dicari kemanapun nggak ada. Haahh, pensil, dimana kamu? (lho?). Ett, kok jadi agak membelok gini? Oke, kita lurusin dulu, krekk.. Lanjut. Banyak banget deh sejarah yang saya buat dengan pensil saya yang satu itu.

Kedua, handphone. Kalau barang yang satu ini emang kelihatannya mahal. Secara, harganya yang bisa bikin sakukurata (dibaca : sakuku rata). Tapi sekali lagi saya pengen bahas, kalau ini bukan harganya (siihh, mbaknya punya uang banyak ya :v). Handphone saya yang satu ini adalah pemberian dari ayah saya, LG GW300. Dulu waktu masih barunya bisa di atas 1 jutaan, kalau sekarang nggak tahu sih. Yang bikin saya senang dengan handphone itu adalah kameranya. Maklum, karena saya anak yang jarang punya handphone mahal, jadi ketika dibelikan handphone itu senengnya bukan main. Dulu, saya kepengen banget bisa jepret momen-momen berharga yang terjadi dalam perjalanan hidup saya, dan akhirnya pun bisa kesampaian. Sampe momen bersama pacar pun (ehem) diabadikan dengan handphone saya ini, hehe.. Belum lagi video yang saya simpan di handphone itu. Saya sering merekam aktivitas adik sepupu saya yang saat itu masih bayi. Cukup banyak video yang tersimpan. Dan satu video yang selalu buat saya ketawa ketika melihatnya, video joget ala SM*SH yang dipertunjukkan oleh temen sekelas saya. Selain itu adalah music playernya dan radio.

Lah, cuma itu, kan bisa sih pake radio dan mp3 player lainnya?

Emang iya. Tapi kan kalau radio nggak mungkin dibawa kemana-mana, apalagi radio di rumah saya ukurannya besar gitu. Kalau pake mp3 player kadang nggak praktis. Saya seneng sms-an, jadi bisa dengerin lagu sambil sms-an, hehe.. Apalagi saat mengerjakan tugas, saya nggak tahan kalau belajar nggak sambil dengerin lagu. Kayak makan nggak pake kerupuk, hambar rasanya. Menjelang ujian masuk universitas pun, saya selalu gunakan music player di handphone saya itu untuk menemani waktu belajar saya. Sayang, karena kecerobohan saya, handphone itu pun hilang di kampus saya sendiri. Kronologinya nggak akan saya ceritain ya, takut keinget, takut sedih, takut nangis lagi :(. Yang jelas, 2 tahun bersama handphone itu teramat berarti dalam hidup saya.

Ketiga, tempat minum. Memang kelihatannya agak aneh ya, sampe segitunya sayang sama tempat minum. Barang satu ini udah saya miliki selama 3 tahun. Saya ingat waktu awal-awal kuliah, ibu saya membelikannya. Sejak SD, saya sudah terbiasa bekal dari rumah, bekal makan dan minum sampe berlanjut di bangku kuliah. Tempat minum yang simpel, sebenernya biasa sih, nggak ada yang istimewa dari barang ini. Tapi yang bikin saya betah menggunakan barang ini adalah selalu dibawa kemanapun dan dimanapun. Aktivitas saya kuliah bisa dari pagi sampe sore. Malas juga kalau harus terus merogoh kocek untuk membeli air mineral atau minuman lainnya di luar, sehingga saya memutuskan untuk membawa minum dari rumah setiap saya kuliah atau aktivitas di luar lainnya. Selain itu, bermanfaat bagi orang lain. Kadang ada juga temen-temen yang suka minta air dari saya. "Des, bawa minum?", "Des, minta minumnya yaa?". Dan entah kenapa saya merasa barang saya yang satu ini bisa bermanfaat untuk orang lain, hehe..

Tempat minumku :'(
Suatu ketika, saya dan temen-temen asisten lab jalan-jalan ke pantai. Saya kepikiran untuk membawa tempat minum dari rumah, dan akhirnya dibawalah barang itu. Saya simpan di kantong kiri tas saya. Saat pulang, hujan deras dan banjir yang cukup parah. Saya berlindung di jas hujan teman saya sambil melindungi tas agar tidak kebasahan. Sampai di Jenggawah (suatu wilayah kecamatan di Jember), tiba-tiba tempat minum saya jatuh. Karena panik, saya minta teman saya untuk menepikan motor dan saya turun untuk mengambil tempat minum saya itu. Di jalan itu cukup ramai, sehingga saya kesulitan untuk mengambilnya. Terlebih lagi banjir yang agak dalam dan hujan deras, membuat saya ragu untuk mengambil barang kesayangan saya itu. Arus banjir yang deras membuat tempat minum saya terbawa sampai ke got atau selokan. Daan yaah, saya terlambat untuk mengambilnya. Tempat minum saya lenyap untuk selama-lamanya, hiks..

Dari kisah ini saya belajar bahwa kita harus bisa menjaga barang dengan baik, sekalipun itu bukan barang kesayangan. Ketiga barang kesayangan ini pun hilang karena kecerobohan saya. Tapi rasanya bener-bener amat kehilangan waktu ketiganya lenyap itu. Bahkan handphone saya yang hilang itu membuat saya jadi nggak bersemangat menjalani aktivitas dan terus kepikiran. Kelihatannya berlebihan sih, tapi yang namanya udah kesayangan, bertahun-tahun bersama, gimana lagi. Tidak bermaksud untuk mendewakan barang lho ya, sekali lagi saya ingatkan. Bagi saya, kehilangan barang berharga hampir sama rasanya kayak kehilangan seseorang yang kita sayangi. Mereka begitu berharga, dan ketika hilang atau pergi, kita bener-bener merasa kehilangannya.

Ketiga barangku yang berharga, terima kasih sudah menemaniku selama ini :')

0 comments:

Posting Komentar